WRITINGS (Notes to Love)
Kesucian Cinta Shinta (Sanctity of Love, Shinta)
Masih sucikah dia? Masih utuhkah kulit kuning langsatnya? Masih setiakah sebagai ikekasih? Goyahkah imannya oleh kemewahan yang disodorkan? Apakah ia menemukan kebahagiaan oleh kerajaan yang dipenuhi perabotan dari emas. Pertanyaan yang menggelayut pikiran dan perasaan seorang kekasih yang ganteng dan lemah lembut, Rama. Kegelisahan itu muncul setelah mengetahui kalau Rahwana berhasil melarikan kekasih tercinta, Shinta.
Karena begitu besar cinta Rama kepada Dewi Shinta, ia tidak mau menunda waktu, justru kian lama bisa dalam diri Shinta tumbuh,katresnan amarga kulino, kepada Rahwana, begitu pikir Rama. Situasi ini butuh ketegasan, yakni pembebasan kekasihnya keluar kerajaan Alengka. Alkisah pembebasan dengan berdarah-darah, akhrinya Rama berhasil merebut kembali DEwi Shinta, dan memboyong pulang ke istananya.
Malam pertama setelah kembali dipelukan kekasihnya, Shinta dilanda kerinduan luar biasa. Shinta merebahkan kepalanya didada Rama, dan telinga yang nempel didada mendengar jelas jantung Rama berdetak keras. Suara lembut keluar dari mulut tipis Dewi Shinta, “ apa kamas juga kangen”, sembari tangan seperti bunga leli membelai lengan Rama.
Rama tetap terdiam, seperti tidak peduli ajakan suara lembut dan belaian kekasihnya. Ia hanya merasakan detak jantungnya sendiri kian cepat. Tiba-tiba dengan pelan tangan Rama menghela kepala Shinta dari dadanya. Shinta agak terkejut, manatap wajah Rama, “ ada sesuatu yang kamas gelisahkan?”, sembari tangan Shinta tetap menempel dan sesekali mengusap dada Rama, kerinduan masih tampak pada Shinta. Rama menghela tangan Shinta dari dadanya. “ Kenapa kangmas, kenapa kerinduan kangmas tahan ”, sebutir air mata Shinta meleleh dari mata indahnya.
Rama mengungkapkan isi hatinya, penuh keraguan. Benarkah tubuh Shinta tidak disentuh Rahwana, seorang raja yang suka memaksa birahi kepada wanita. Perempuan sandera mana yang kuat menghela tangan pria yang berbadan macho menggerayangi tubuh. Mata indah Shinta yang berkaca-kaca, akhirnya pecah meleleh membasahi wajah cantiknya, tidak tahan tuduhan kekasihnya. Lalu Shinta berdiri beranjak kehadapan Rama, dan ia ingin membuktikan kesuciannya. Selama dicengkraman Rahwana, tubuhnya tidak tersentuh sama sekali , apalagi hatinya. Lalu kepada rama, ia meminta upacara obong.
Esoknya, didepan istana , tumpukan kayu sebagai sarana upacara telah siap. Api menyala, aingin yang berhembus kian memperbesar kobaran api. Udara panas dirasakan dari jarak 10 meter. Shinta berdiri tenang ditepi papan yang disiapkan, seperti tidak merasakan panas api yang berkobar didekatnya. Semua pandangan orang dan punggawa tertegun kepada sosok perempuan cantik dan tubuh yang indah, seakan-akan meminta untuk membatalkan niatnya. Begitu juga kekasihnya yang berdiri dipanggung mencoba menguatkan diri, karena dalam hatinya sangat mencintai Shinta. Sebaliknya Shinta juga merasakan tidak tega hati calon suaminya, namun sebagai seorang raja harus memegang kata-katanya, sabda pandita ratu, konsisten dengan ucapannya.
Setelah menengok untuk melihat wajah kekasihnya sebagai ucapan perpisahan, kemudian merebahkan tubuhnya pada kobaran api. Spontan orang-orang dan punggawa istana, berteriak, menutup muka, dan dan membuang muka, tidak tahan melihat adegan dramatis itu. Api yang berkobar melumatkan tubuh Shinta. Api membakar tumpukan kayu, setelah berubah jadi arang, api mengecil dan akhirnya padam. Bara , dan debu sisa pembakaran berserakan, dibali k asap mulai menipis, lama kelamaan terlihat sosok tubuh Shinta, utuh tidak ada sedikitpun bekas tersentuh api . Shinta tersenyum, Rama lari mendekat dan memeluknya, menangisi kekecewaaan terhadap keraguan kesucian cinta kekasihnya.
Shinta telah membuktikan kesetiaan menjaga hati dan kesucian tubuhnya dari kehancuran. Kesetian yang luar biasa, tidak akan terjadi lagi kesetiaan semacam itu. Di tengah jaman modern seperti sekarang ini sekalipun.
(de Je, sempu, 20 June,2010)
*******
CINTA (LOVE)
Seorang pria usia 25 tahunan, rambut ikal panjang sebahu sebagian menutupi wajah gantengnya, yang kelihatan cuma hidung mancungnya. Tubuh ramping tinggi dibalut bluejean, dia sedang suntuk berhadapan dengan mesin ketik jadul. Sedang memuntahkan huruf demi huruf, terangkai sebuah sajak cinta. Dalam dirinya tumbuh lebat cinta dengan pacarnya. Akhirnya beberapa tahun kemudian mengikat perkawinan dan si pria, kemudian dikenal sebagai penyair.
Hasil komitmen cinta sang penyair itu, bukan di uji di jembatan cinta di kota Vrnjacka Banja, Serbia. Tradisi dari kisah kesepakatan cinta yang di gembok lalu di gantung didinding jembatan dan kunci dibuang disungai.
Begitu juga kisah cinta Presiden ke III Indonesia, Bapak Prof.Dr.Ing Habibie dengan almarhumah ibu dr.Hasri Ainun, bukan cinta yang terikat digembok, namun cinta keduanya terikat oleh kehidupan seharian yang selalu berdua, tidak ada yang mampu memisahkan. Kecuali kehendak Allah, ketika ibu Hasri Ainun tidak kuasa lagi oleh kanker yang merambahi tubuhnya. Detik-detik terakhir diruang perawatan VVIP itu sang mantan Presiden ke III, merelakan istri yang dicintainya dengan mencium keningnya. Dan saat peti jenazah yang di selimuti bendera merah putih, dalam perjalanan untuk di bawa ke tanah air, beliau tetap didekatnya. Cinta luar biasa yang ditunjukan seorang Profesor Habibie kepada istri yang sangat dicintainya. Bisa jadi contoh, begitu hebatnya cinta itu mengikat dua hati selama 48 tahun.
Dan ending kisah itu, saat mantan first lady itu disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sang mantan Presiden itu tidak kuasa menahan kerelaan untuk mengawali perpisahannya. Pemandangan ini telah menembus hati para pejabat negara maupun masyarakat Indonesia yang mengikuti prosesi pemakaman.
Cinta, jika dijalani dengan ketulusan memang menjadi luar biasa. Sungguhpun dalam ‘perjalanan’ waktu ketulusan itu selalu diuji. Di tengah ujian itu, jikalau sakit tentu dirasakan bersama, karena cinta itu aktif terhadap pengorban diri, empati, perhatian, saling memberi kasih sayang, saling membantu, sekata dan sekarsa.
Seorang Adelaide begitu tulus memberikan cintanya pada seorang perwira seperti yang dikisahkan oleh Victor Hugo, sungguhpun sang perwira tidak menduganya, bahkan kenal pun tidak. Tapi sang Adelaide tetap menjatuhkan pilihan cintanya sampai sakit dan meninggal hanya untuk sang perwira.
Tapi kita bukan seperti yang dikisahkan oleh sastrawan Perancis itu, atau cinta setengah mati sang penyair kepada calon istrinya seperti diawal tullisan ini. Kita yang jelas-jelas dihadapkan oleh obyek istri atau suami dan anak-anak, maka cinta tidak sekedar merengkuhnya, tetapi ‘hemengkoni’. Semoga bisa.
(de Je, June 2010)********
Seorang pria usia 25 tahunan, rambut ikal panjang sebahu sebagian menutupi wajah gantengnya, yang kelihatan cuma hidung mancungnya. Tubuh ramping tinggi dibalut bluejean, dia sedang suntuk berhadapan dengan mesin ketik jadul. Sedang memuntahkan huruf demi huruf, terangkai sebuah sajak cinta. Dalam dirinya tumbuh lebat cinta dengan pacarnya. Akhirnya beberapa tahun kemudian mengikat perkawinan dan si pria, kemudian dikenal sebagai penyair.
Hasil komitmen cinta sang penyair itu, bukan di uji di jembatan cinta di kota Vrnjacka Banja, Serbia. Tradisi dari kisah kesepakatan cinta yang di gembok lalu di gantung didinding jembatan dan kunci dibuang disungai.
Begitu juga kisah cinta Presiden ke III Indonesia, Bapak Prof.Dr.Ing Habibie dengan almarhumah ibu dr.Hasri Ainun, bukan cinta yang terikat digembok, namun cinta keduanya terikat oleh kehidupan seharian yang selalu berdua, tidak ada yang mampu memisahkan. Kecuali kehendak Allah, ketika ibu Hasri Ainun tidak kuasa lagi oleh kanker yang merambahi tubuhnya. Detik-detik terakhir diruang perawatan VVIP itu sang mantan Presiden ke III, merelakan istri yang dicintainya dengan mencium keningnya. Dan saat peti jenazah yang di selimuti bendera merah putih, dalam perjalanan untuk di bawa ke tanah air, beliau tetap didekatnya. Cinta luar biasa yang ditunjukan seorang Profesor Habibie kepada istri yang sangat dicintainya. Bisa jadi contoh, begitu hebatnya cinta itu mengikat dua hati selama 48 tahun.
Dan ending kisah itu, saat mantan first lady itu disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sang mantan Presiden itu tidak kuasa menahan kerelaan untuk mengawali perpisahannya. Pemandangan ini telah menembus hati para pejabat negara maupun masyarakat Indonesia yang mengikuti prosesi pemakaman.
Cinta, jika dijalani dengan ketulusan memang menjadi luar biasa. Sungguhpun dalam ‘perjalanan’ waktu ketulusan itu selalu diuji. Di tengah ujian itu, jikalau sakit tentu dirasakan bersama, karena cinta itu aktif terhadap pengorban diri, empati, perhatian, saling memberi kasih sayang, saling membantu, sekata dan sekarsa.
Seorang Adelaide begitu tulus memberikan cintanya pada seorang perwira seperti yang dikisahkan oleh Victor Hugo, sungguhpun sang perwira tidak menduganya, bahkan kenal pun tidak. Tapi sang Adelaide tetap menjatuhkan pilihan cintanya sampai sakit dan meninggal hanya untuk sang perwira.
Tapi kita bukan seperti yang dikisahkan oleh sastrawan Perancis itu, atau cinta setengah mati sang penyair kepada calon istrinya seperti diawal tullisan ini. Kita yang jelas-jelas dihadapkan oleh obyek istri atau suami dan anak-anak, maka cinta tidak sekedar merengkuhnya, tetapi ‘hemengkoni’. Semoga bisa.
(de Je, Awal June 2010)






September 26, 2011 pada 10:01 AM
Indahnya bisa mencintai dan dicintai seperti itu. tapi bagi ak, mungkin itu hanya mimpi di siang hari.